Friday, December 21, 2012

Memusnakan Customer Pendidikan



DALAM SEBUAH seminar tentang pendidikan beberapa waktu yang lalu di jakarta ada suatu hal yang menarik milik Hendra jaya, guru besar sekaligus mantan rektor di ITB sala satu penulis memaparkan  bagaimana lembaga pendidikan memperkuat diri dengan meniru konsep-konsep yang di anut perusahan misalnya dngan memposisikan penangungjawab lembaga sebagai  Chief executive opicer {CEO}, lalu membentuk partner institions dan  daughter institions yang beroperasi sebagai strategi business unit {SBU}. Hal ini menandakan bahwa lembaga pendidkan memang sudah waktunya dikelolah seperti suatu business Entitiy.
    Konsep bisnis seperti suatu yang sukses di dunia selalu bertumpuk pada kualitas yang muaranya adalah kekuasan pelangan [Custtomer statisfastion}. Mereka menyadari bahwa perusahan hanya akan dapat betahan hidup bila produk yang mereka buat tidak sekedar laku di pasaran namun mampu menciptakan brtan kualiti dan pada ahirnya tumbuh bran image . dengan begtu diharapkan produk yang bersangkutan tetap akan mendapat tempat di hati masya sepanjang masa maka bidang riset pasar, marketing dan promosi menjas\di tulang pungung  perusahan untuk terus memonitor grend yang sedang berkebang di masya, dengan tujuan agar perusahaan bisa mengarahkan produknya sesuai dengan minat dan selera pasar tidak hanya itu untuklebih memantapkann pilihan kostuner, perusahan sangup memberi jaminan [garansi] dan pelayan purna jual bila terjadi sesuatu barang yang di beli . persoalan sekarang adalah mampuhkah lembaga pendidikan melakukan hal tsb atas . menbgapa tidak? Hanyasaja belum dapat yng berfikir sampai sesuaimitu jauh, atau mungkin tidak sampai hati harus mencampur adukan antara  education dengan business. Barang kali masi ad dugaan bahwa kalau itu terjadi, maka akanterbuka peluang bagi pngelola untuk membisniskan pendidikan secara murahan. Artimya pihak pengeloloah berusaha mencari celsh untuk mendapatkan keuntungan sbesar-besarnya namun dengan memenafikan kualitas. Inilah yang lalu mmwmbut citra bisnis menjadi negatif {business is dirtiy eord} padahal; sebenatnya sebuahlembaga bisa maju bila mau menangalkan sitem manejermen pendidikan yang masi tradisional. Lebih-lebih dalam ksaran arus transformasi yang begitu deras dan cepat, institusi pendidikan hartus di kelola atau dikerjakan bik sebuah instutiy bisnis / ibndustri dalam satu bisnis yang baik harus mampu menghasilkan produk yang terbaik pula tangga trhadap berbagai perubahan teknologi pasar, harga yang kompetitif  dasnjuga keuntungan { propit}. Celakanya , selama ini kata propit bagi dunia pendidikan merupakan kata yang kabu. Padahal popit juga brarti pertumbuhan dan perkembangan sehingga aopa yang terjadi kemudian adalah bahwa model manejemen yang berangkat dari manajemen dunia bisns di curigai  dan di intergrasikan  secara harfia sebagai komersiallisasi pendidikan. Lebih lebih dikaitkanpermasalahan bisnis dan tujuan mulia pendidikan maka kemudin muncullah gab dan bahkan malah berbenturab sangat tajam sementara antara idialisme dan dramatisme. Di atas telah dikatakan suatu bisnis yang dijalankan dengan baik harus menjalankan suatu kualitas dalam bisnis pada kususnya , aspek kualitas buisnis dapat di dipilih menjadi dua pertama kua;itas penerima ,yakni bagimana pihah pemberi jasa berusaha memberi kesn yang baik hangat dan besahabat dalam membawa smasuk calon customer dalam bentuk jasa yang di tawarkan kedua kualitas proses pelayann yakni bagaimana penyidik jasa bener-benar memberikanpelayanan jasayang sebaik-baiknya kepada kostumert.bagaimana kedua hal tersebut tidak di perthatikan? Ada 2 kemung kinan pertama kustomer akan pergi setelah tau kenyataannya.

No comments:

Post a Comment